Saturday, 14 November 2015

doubt



Kepada lembaran malam yang kelam
Aku masih tenggelam dalam kenangan dan harapan yg sesuram temaram malam
Genangan tepian harapan hanya bisa menjejejali hati dengan imaji penuh duri
Mencoba mengikuti intuisi, mendapati itu tak bolek termiliki
Meraung hancur, tersedak budak fatamorgana
Merantai, membantai hingga lunglai
Dengan apa lagi harus bertahan ?
Meretas batas terikat takdr, tak bisa menyingkir
Mencopa lepas namun ikatan seperti tak kan putus
Apa lagi yang kau inginkan ?
Semua sudah ku berikan, harapan impian kebahagiaanku bertumpu menjad satu yaitu kamu....
Biarkan asa berlari mengejar takdir semesta yang masih misteri
Walau tak bisa dipungikiri, setidaknya beri aku ruang untuk mengambil secuil senyum itu...
Untuk sejenak dan sesaat biarkan aku mengumbar semua kata yang bahkan hanya Tuhan dan aku saja yang mampu menerjemahkannya
Kenapa kau selalu memintaku untuk menunggu ?
Sebegitu banyak pilihankah hingga aku menjadi yang terakhir
Menjadi sebuah cadangan , pemain figuran pada hidupmu
Sebegitu tak punya makna kah aku bagimu ?
Aku selalu berusaha berlari mengiringi tiap jejak kakimu melangkah
Tak peduli bila kaki dan hati sama-sama bersimbah darah
Mennunggu, terbelenggu hanya menikmati keindahan dari sebuah sisi samar kehidupan
Menyimpan rapat semua luka yang menggurat
Menghias pias wajah dengan senyum manis agar kelak tak menjadi bebanmu dengan segala kegundahan dan kesedihan ini...
Entahlah...
Jangan mencoba memberi harapan kalau tak bisa memberikan kesungguhan untuk berjuang...
Biarkan aku pergi...