Alkisah, di
sebuah lembah yang subur. Terhampar pemandangan yang mendamaikan bagi siapapun
yang berkesempatan untuk mau sejenak menepi dari rutinitas dan menyesapi
kebersamaan dengan keberagaman keindahan alam.
Hari ini
adalah hari terakhir musim dingin, sebuah janji kehidupan baru mulai tumbuh
dengan kembalinya secercah sinar matahari yang menyibak gigil dingin menjadi
sebuah gelimang hangat yang penuh dengan harapan-harapan baru.
Tunas baru
tumbuh, ia adalah tunas dari pohon berbunga, alam menyebutnya Sakura. Kuncup
batang kecilnya mulai menunjukkan tanda denyut kehidupan. Sakura sudah resmi
menjadi penduduk lembah yang indah itu. Hadirnya disambut gegap gempita oleh sekumpulan
bunga-bunga cantik, rona pagi yang indah, aliran sungai yang menenangkan dan
juga awan.
Saat daun
pertamanya mulai muncul, saat itulah Sakura bisa melihat siapa saja yang sudah
menjaga dan menunggunya.
“Hai Sakura,
aku Awan aku akan melindungimu dari sengatan panas matahari”, begitu riang Awan
menyambut Sakura.
“Awan... iya
terimakasih awan”, seulas senyum pertamanya di dunia dan itu untuk awan.
Semenjak saat
itu mereka semacam mengikat tali takdir diantara mereka berdua. Awan memang tak
setiap waktu bisa bercengkerama dengan Sakura. Awan sangat suka berkelana
Sakura sangat paham hal itu. Terkadang dalam satu waktu mereka tak bertemu
cukup lama.Tak ada masalah dengan hal itu, Sakura selalu menunggunya untuk
kembali.
Walau terkadang
takdir ataupun angin tak menginginkan awan kembali padanya, ajaibnya awan
selalu bisa kembali. Saat-saat paling istimewa dalam runutan waktu hidup Sakura
adalah mendengarkan kisah dari awan.
Tanpa Sakura
sadari, ia selalu melepaskan kepergian awan dengan sekuntum senyuman dan seulas
kerinduan. Tali – temali rindu yang perlahan tapi pasti menjerat nurani
menghidupkan sebuah rasa pada sanubari yang tak akan sanggup dihindari oleh
Sakura.
“Senja,
bisakah kau mengirimkan salamku untuk awan ? ia sudah lama tidak berada disini”,
tanya sakura pada senja.
“Hanya
Penggenggam Semesta yang mengetahui dimana awanmu berada Sakura”, jawab Senja.
Sakura
terdiam, ada bagian dari dirinya yang terasa hampa tidak sempurna. Bila saja ia
bisa berlari ataupun terbang, tanpa berpikir dua kali ia akan mencari awan. Temaram
malam mulai menerkamnya pada pekatnya kerinduan tanpa balasan.
Senja, para
lebah, para kupu-kupu, para peri-peri taman, para bunga bermekaran semua
penduduk lembah tau rasa itulah yang dinamakan cinta.
Waktu bergullir
bak sihir yang tak bisa dipatahkan. Daun-daun Sakura mulai tumbuh, ia mulai
meninggi. Dan awan pun kembali dan mulai bercerita tentang kisah-kisah hebatnya
melihat dunia, takzim Sakura menyimak dengan sepenuh hati.
“Awan...
andai aku bisa berharap aku ingin bisa meninggi hingga daun dan bungaku bisa
menyentuhmu. Pasti menyenangkan berada diatas sana”, ujar Sakura.
“Tetap
tumbuh ya Sakura, berjanjilah kau akan terus bahagia...” kata Awan sebelum
tubuh ringannya tertiup angin, perlahan menjauhi Sakura dan lembah indah itu.
“Awan,
usahakan kembali saat musim semi pertamaku. Kau harus melihat bagaimana
bunga-bungaku mekar. Itu untukmu, Aku.. aku.. mencintaimu.. tak bisakah kau
tinggal ?” teriak Sakura, pengakuan itu terungkap sudah. Setiap cinta memang
mempunyai hak untuk diungkapkan.
“Sakura,
maafkan.. maaf.. aku tidak bisa....”, jawab Awan, sebelum Awan benar-benar
hilang dari pandangan.
Angin bertiup
semakin kencang, membuat Sakura menggigil kedinginan. Bulir pertama hujan musim
gugur mulai menuruni singgasana langit untuk kembali memeluk bumi. Untuk pertama
kalinya, rinai-rinai hujan serasa duri-duri yang menancapi tubuh Sakura. Tergugu
dalam derasnya hujan.
“Semesta,
maafkan aku. Tidak seharusnya aku menangis atas rasa yang begitu indah. Ijinkanlah
untuk hari ini saja aku menangis”, ungkap Sakura sendu pada semesta.
Sejalan dengan
sendu yang tengah mengungkung Sakura, lembah indah menjadi berselimut mendung
sayu dan redup. Rona bahagia lenyap dari binar-binar dedaunan Sakura.
“Sakura,
rasanya memang berat jikalau ia tak merasakan perasaan yang sama denganmu. Namun
hidup tetap harus berlanjut, banyak yang menunggu bunga-bunga indahmu itu. Kau juga
punya janji padanya bahwa kau akan selalu bahagia. Gunakan rasamu untuk
memenuhi permintaanya melihatmu bahagia”, kata senja.
Sakura
tergugu pilu, tersadar atas apa yang telah ia janjikan pada awan. “ Aku hanya
ingin ia melihatku di musim semi,senja. Ia yang selalu ada untukku sedari awal.
Aku hanya ingin itu... hanya itu”.
Semenjak percakapan
itu, Sakura menjalani harinya dengan mencipta banyak bahagia pada sekitarnya. Ia
bercengekrama dengan para bunga dan bergurau pada para lebah, kupu-kupu dan
merpati. Namun, tetap tempat awan tak akan tergantikan.
Kuncup-kuncup
bunga Sakura mulai tumbuh, semakin hari semakin menutupi batang Sakura.
Hari mekar
itupun tiba, satu persatu bunga berwarna merah muda mulai menunjukkan
mahkotanya. Semua bahagia melihat Sakura yang begitu menawan. Ditengah bahagia
Sakura berharap seorang yang paling ditunggunya.
Hari ini
terjawab sudah, Awan kembali.
“Sakura, kau
begitu cantik. Aku selalu yakin kau akan
bisa menjadi seindah ini. Tak akan ada
yang sanggup berpaling darimu”, kata awan dengan takjub.
Sakura hanya
terdiam begitu pula dengan seluruh lembah yang mendadak dilingkupi dengan
kesunyian.
“Maafkan aku
Sakura, aku benar-benar....”
“Tak usah
minta maaf”, potong Sakura. “ Hari ini aku benar-benar bahagia, harapan
terbesarku sudah terwujud yaitu kau ada disini bisa melihat semua ini. Aku mohon
jangan merasa bersalah padaku. Tak ada yang salah. Rasa ini sangat indah awan,
karnamu aku bisa merasakannya. Aku tak ingin memaksakan apapun padamu, ini
sudah cukup indah. Kuatnya rasa itu bisa berjalan bahkan bila jarak membuatku
tak bisa merengkuhmu. Kau tetap disana ya, selalu bahagia. Aku selalu mengharapkanmu sebagai salah satu langkah yang ku tempuh. Rasaku selalu untukmu
jadikan ia kawan bukan beban. Tetap yakinlah bagaimanapun semesta mengubah
dunia, rasaku dan doaku tetap akan selalu mengiringimu....”
KREKKKK...!!!!!!!!!!!!!
tumbang sudah pohon sakura yang seluruh bunga-bunganya bermekaran sangat indah
hari itu, hari pertama ia bersemi dan gugur pada saat bersamaan. Para manusia
sudah sempurna menebang batang pohon Sakura, itulah yang membuat seluruh lembah
terdiam...
Awan.........
P.S :
(Nothing’s
gonna change my love for you, you ought to know by now how much I love you. The
world may change my whole life through but Nothing’s gonna change my love for
you)-Westlife-