Monday, 2 January 2017

DAUN YANG GUGUR MENGHARAPKAN RANTINGNYA



          Alkisah, tumbuhlah sebuah daun kecil. Ia tumbuh ditengah pohon yang rindang dan hijau. Daun kecil tumbuh pada satu ranting yang pendiam. Disaat seluruh ranting dan daun bersorai riuh saat diterpa angin, ranting itu hanya diam. Ranting itu jarang sekali bercakap dengan sekelilingnya.
          Hingga pada saat musim gugur, satu per satu daun mulai berguguran, mereka gugur bukan hanya karena terpaan atau kehendak mengikuti angin namun itu adalah sebuah keharusan, hukum alam yang tak dapat satu makhluk pun bisa menghindarkan. Satu hal yang pasti jika para dedaunan kecil itu menyangkal untuk gugur, mereka bisa membuat siklus hidup menjadi tak beraturan.
Hari terus berganti, hingga tinggallah daun kecil yang tersisa sendiri. Seluruh daun satu per satu sudah gugur dengan mengucapkan perpisahan yang manis. Daun kecil merasa dikepung oleh kesendirian dan kesepian yang merajam. Hingga ia memberanikan diri menyapa sang ranting.
“Ranting, kini hanya tersisa aku.. bisakah kau menemaniku berbincang ? aku kesepian”, ujar daun kecil.
“Tentu saja... Bagaimana persaanmu ?”, jawab ranting.
“Aku takut, sejujurnya bahkan aku tak bisa membayangkan bila harus terlepas dari sini”.
Selepas percakapan itu, semakin hari mereka semakin dekat dan juga menumbuhkan perasaan  dalam hati si daun kecil. Ia semakin ingin untuk selalu berada didekat ranting bahkan untuk selamanya. Padahal, jauh sebelum daun kecil  merasakan perasaan itu, sang ranting sudah terlebih dulu merasakan dan menyimpan segala rona rasa untuk si daun kecil dalam kebungkaman dan  kebisuan.
Ia pun menyimpan dan sampai pada batasnya dan pada akhirnya pengakuan itu pun terkatakan.
“Daun... aku sangat bahagia bisa dekat denganmu. Kau tahu saat-saat inilah yang selalu  aku semogakan dalam keheningan yang selalu aku tunjukkan aku padamu...”
“ Aku pun begitu, ranting... Aku akan selalu berusaha mendampingimu, memahamimu dan bertahan berada disampingmu. Kita akan selalu bersama...”, kata daun kecil penuh pengharapan.
Namun, laju dan peran takdir tak bisa untuk mangkir. Pada saat ini adalah sebuah pilihan harus dijatuhkan. Semesta hanya bisa memberikan sebuah persetujuan atas segala pilihan yang akan ditentukan oleh tiap makhluk.
Tersudut diantara dua pilihan yang sangat menyulitkan pada ranting. Jika ia tak melepaskan daun kecil maka seluruh hidup pohon akan sampai pada akhir, namun hati mana yang menyimpan begitu banyak cinta menghianati rasa yang paling dikasihi dan sayangi pergi begitu saja.
Beberapa waktu ranting hanya bisa terdiam , bahkan untuk sekedar memandang daun kecil pun ia tak sanggup. Bagaimana bisa ia melanjuti hidup jika ia tak ada di sisi. Prasangka akan pahit yang akan menghimpit menjadikan ini semakin sulit.
Daun kecil merasa berbeda pada ranting yang ia berikan cinta padanya. Daun kecil berusaha untuk membaut ranting mengerti bahwa ia tak akan menghadapi apapun sendiri. Ranting tetap hening tak bergeming. Kekalutan begitu terasa, hingga daun kecil berdoa agar segala beban ranting biar ia yang membawanya.
Hingga pada tengah malam, si daun kecil masih tetap terjaga . Ia masih dihinggapi sejuta tanda tanya tentang perubahan sikap ranting. Kabut malam pun merasakan kegundahan yang dirasakan daun kecil. Kabut malam menceritakan segala hal yang ia tahu tentang ranting dan pohon.
Begitulah roda kehidupan berputar, kau tak akan sadar dimana posisimu sebelum semesta mengeluakanmu dari kotak nyamanmu. Entah sedang di atas ataupun dibawah , suka tidak suka kau hanya bisa menerima. Rasanya semacam hanya kilatan cahaya bahagia yang dirasa daun kecil, hingga sudah harus mencecapi pait yang sangat melilit relung hati.
“Baiklah ! jika ranting tak bisa melepaskanku, aku yang akan melepaskan diriku sarinya”, kata daun kecil pelan.
“Apa kau sungguh-sungguh akan melakukannya ?, tanya kabut malam terkejut.
“iya kabut malam.. Aku tau hal yang paling menyakitkan adalah harus melepaskan apa yang telah kau genggam. Dan hal yang lebihh menyakitkan diatas segalanya adalah pergi tanpa pamit. Aku paham hal itu. Namun, sungguh kabut, sekarang saja sudah teramat menyakitkan. Sekujur tubuhku menahan rasa sakit yang sama besar dengan hatiku. Aku sudah tak bisa bersamanya, haruskah aku menyakiti hatiku lebih dalam  lagi dengan mengucapkan selamat tinggal padanya ? sungguh aku tak bisa”, isak daun kecil.
“Berjanjilah padaku kabut sampaikan ini pada ranting aku tak akan bisa jika harus mengucapkan ini sendiri padanya, katakan bahwa aku sangat mencintainya dan janganlah ranting menyalahkan dirinya atas kepergianku. Disini tak ada yang salah dan yang harus dipersalahkan. Ini hanya tentang janjiku yang ingin selalu melihatnya bahagia apapun caranya. Walau bahagianya tak bersamaku tak mengapa ia tetap harus bahagia yang utuh dan senyum yang penuh.  Hanya itu yang kuinginkan dalam hidupku setelah aku mendapat anugarah besar bisa mencintai dia,” kata daun kecil.
Dengan sebulir air mata dan senyuman daun kecil perlahan melepaskan diri dari ranting. Ia jatuh mengikuti desiran angin. Tuntas sudah tugasnya untuk menemani dan memberikan kebahagiaan pada rantingnya.

Tuesday, 12 July 2016

selarik kisah klasik ... {untukmu, Zee)



Ia pergi tanpa lambaian tangan, tanpa ucapan selamat tinggal dan juga tanpa alasan. Ia yang dulu begitu meyakinkan memberikan mimpi dan menumbuhkan harapan. Ia pergi tanpa sepatah aksara hingga hati dan asa dipenuhi selaksa tanya dan lara. Setega itukah ? hingga detik akhir ia terus mengabaikan dan mematahkan sejuta sayap keinginan.
Lamunan dalam rinai hujan masih tentang ingatan dan kenangan serta perputaran cerita bersamanya. Genap 40 hari ia memutuskan tali perasaan itu. Seluruh bayangan masih segar dalam pikiran. Kalaupun hati dan nurani boleh jadi bisa melupakan selaksa kenangan kita, namun ingatlah selarik jejak langkah kita pada sudut jalan dan tempat dikota ini tetap menyimpan kisah kita abadi dalam sunyinya.
Ia adalah kamu ‘Zee’. Kau pergi tanpa sepatah kata , mematahkan segala perasaan yang ada . Masih saja kau menjadi orang yang muncul dalam benak pertama kali saat bangun dan terakhir sebelum jatuh terlelap tidur.  Begitu tak berharga dan tak punya makna kah kisah ini bagimu ? kau pergi tanpa segan di hati. Ini selarik aksara untukmu.

Zee...
Yang kau hadapi ini adalah seorang manusia, pahamilah. Tak semua petunjuk bisa dimaknai olehnya, tak usah berpangku tangan pada takdir. Takdir telah menitipkan sebait penjelasan padamu, sampaikan padanya alasan kepergianmu.
Zee...
Kisah ini bukan hanya milikmu tapi juga miliknya, lebih tepatnya milik kita. Kau mengawalinya dengan mendatanginya dan kau mengakhiri ini hanya dengan sebait pesan pendek dunia maya ? Setega itukah kau ?
Zee...
Sekali lagi, ia adalah manusia, punya hati yang selayaknya kau hargai. Jelaskan jika memang kau sudah tak ada rasa lagi atau apapun itu, paparkan alasan ketidakmaunmu untuk merajut kisah ini lagi padanya.
Zee...
Ia juga berhak tau alasan berakhirnya kisah ini. Agar ia bisa menghapus segala tanya dan melapangkan dada untuk berdoa agar kau selalu bahagia dengan segala cita tanpa ia yang kau tepikan dari duniamu.
Zee..
Ingat, dia juga manusia yang punya makna untukmu, walau bagimu ia hanya selingan semata.
Zee..
Terima kasih pernah menjadi bagian perjalanan hidup. Meski pada beberapa bagian, harus menghadapi pedihnya usaha bangkit setelah redup. Kalau nanti kau bertanya lagi kenapa bisa melupakan, tanyalah dirimu kenapa kau bisa pergi sejauh itu.
Zee...
Aku tau cara untuk lari, tapi sangat sulit ‘tuk pergi. Berat dan sakit dalam proses merelakanmu dengan tulus. Namun, aku paham rasaku padamu berubah dari yang dulu ingin memilikimu, menjadi ingin melihatmu bahagia. Kini aku harus merelakan nanti, nanti harus kuserahkan pada tidak sama sekali.
Zee..
Membiarkanmu pergi bukan cara yang tepat, pun memintamu kembali juga bukan cara yang terbaik. Biar Tuhan mempertemukan dengan caraNya yang indah.




From:
Someone beyond the dreams

Monday, 27 June 2016

GUGUR PADA MUSIM SEMI YANG PERTAMA




Alkisah, di sebuah lembah yang subur. Terhampar pemandangan yang mendamaikan bagi siapapun yang berkesempatan untuk mau sejenak menepi dari rutinitas dan menyesapi kebersamaan dengan keberagaman keindahan alam.
Hari ini adalah hari terakhir musim dingin, sebuah janji kehidupan baru mulai tumbuh dengan kembalinya secercah sinar matahari yang menyibak gigil dingin menjadi sebuah gelimang hangat yang penuh dengan harapan-harapan baru.
Tunas baru tumbuh, ia adalah tunas dari pohon berbunga, alam menyebutnya Sakura. Kuncup batang kecilnya mulai menunjukkan tanda denyut kehidupan. Sakura sudah resmi menjadi penduduk lembah yang indah itu. Hadirnya disambut gegap gempita oleh sekumpulan bunga-bunga cantik, rona pagi yang indah, aliran sungai yang menenangkan dan juga awan.
Saat daun pertamanya mulai muncul, saat itulah Sakura bisa melihat siapa saja yang sudah menjaga dan menunggunya.
“Hai Sakura, aku Awan aku akan melindungimu dari sengatan panas matahari”, begitu riang Awan menyambut Sakura.
“Awan... iya terimakasih awan”, seulas senyum pertamanya di dunia dan itu untuk awan.
Semenjak saat itu mereka semacam mengikat tali takdir diantara mereka berdua. Awan memang tak setiap waktu bisa bercengkerama dengan Sakura. Awan sangat suka berkelana Sakura sangat paham hal itu. Terkadang dalam satu waktu mereka tak bertemu cukup lama.Tak ada masalah dengan hal itu, Sakura selalu menunggunya untuk kembali.
Walau terkadang takdir ataupun angin tak menginginkan awan kembali padanya, ajaibnya awan selalu bisa kembali. Saat-saat paling istimewa dalam runutan waktu hidup Sakura adalah mendengarkan kisah dari awan.
Tanpa Sakura sadari, ia selalu melepaskan kepergian awan dengan sekuntum senyuman dan seulas kerinduan. Tali – temali rindu yang perlahan tapi pasti menjerat nurani menghidupkan sebuah rasa pada sanubari yang tak akan sanggup dihindari oleh Sakura.
“Senja, bisakah kau mengirimkan salamku untuk awan ? ia sudah lama tidak berada disini”, tanya sakura pada senja.
“Hanya Penggenggam Semesta yang mengetahui dimana awanmu berada Sakura”, jawab Senja.
Sakura terdiam, ada bagian dari dirinya yang terasa hampa tidak sempurna. Bila saja ia bisa berlari ataupun terbang, tanpa berpikir dua kali ia akan mencari awan. Temaram malam mulai menerkamnya pada pekatnya kerinduan tanpa balasan.
Senja, para lebah, para kupu-kupu, para peri-peri taman, para bunga bermekaran semua penduduk lembah tau rasa itulah yang dinamakan cinta.
Waktu bergullir bak sihir yang tak bisa dipatahkan. Daun-daun Sakura mulai tumbuh, ia mulai meninggi. Dan awan pun kembali dan mulai bercerita tentang kisah-kisah hebatnya melihat dunia, takzim Sakura menyimak dengan sepenuh hati.
“Awan... andai aku bisa berharap aku ingin bisa meninggi hingga daun dan bungaku bisa menyentuhmu. Pasti menyenangkan berada diatas sana”, ujar Sakura.
“Tetap tumbuh ya Sakura, berjanjilah kau akan terus bahagia...” kata Awan sebelum tubuh ringannya tertiup angin, perlahan menjauhi Sakura dan lembah indah itu.
“Awan, usahakan kembali saat musim semi pertamaku. Kau harus melihat bagaimana bunga-bungaku mekar. Itu untukmu, Aku.. aku.. mencintaimu.. tak bisakah kau tinggal ?” teriak Sakura, pengakuan itu terungkap sudah. Setiap cinta memang mempunyai hak untuk diungkapkan.
“Sakura, maafkan.. maaf.. aku tidak bisa....”, jawab Awan, sebelum Awan benar-benar hilang dari pandangan.
Angin bertiup semakin kencang, membuat Sakura menggigil kedinginan. Bulir pertama hujan musim gugur mulai menuruni singgasana langit untuk kembali memeluk bumi. Untuk pertama kalinya, rinai-rinai hujan serasa duri-duri yang menancapi tubuh Sakura. Tergugu dalam derasnya hujan.
“Semesta, maafkan aku. Tidak seharusnya aku menangis atas rasa yang begitu indah. Ijinkanlah untuk hari ini saja aku menangis”, ungkap Sakura sendu pada semesta.
Sejalan dengan sendu yang tengah mengungkung Sakura, lembah indah menjadi berselimut mendung sayu dan redup. Rona bahagia lenyap dari binar-binar dedaunan Sakura.
“Sakura, rasanya memang berat jikalau ia tak merasakan perasaan yang sama denganmu. Namun hidup tetap harus berlanjut, banyak yang menunggu bunga-bunga indahmu itu. Kau juga punya janji padanya bahwa kau akan selalu bahagia. Gunakan rasamu untuk memenuhi permintaanya melihatmu bahagia”, kata senja.
Sakura tergugu pilu, tersadar atas apa yang telah ia janjikan pada awan. “ Aku hanya ingin ia melihatku di musim semi,senja. Ia yang selalu ada untukku sedari awal. Aku hanya ingin itu... hanya itu”.
Semenjak percakapan itu, Sakura menjalani harinya dengan mencipta banyak bahagia pada sekitarnya. Ia bercengekrama dengan para bunga dan bergurau pada para lebah, kupu-kupu dan merpati. Namun, tetap tempat awan tak akan tergantikan.
Kuncup-kuncup bunga Sakura mulai tumbuh, semakin hari semakin menutupi batang Sakura.
Hari mekar itupun tiba, satu persatu bunga berwarna merah muda mulai menunjukkan mahkotanya. Semua bahagia melihat Sakura yang begitu menawan. Ditengah bahagia Sakura berharap seorang yang paling ditunggunya.
Hari ini terjawab sudah, Awan kembali.
“Sakura, kau begitu  cantik. Aku selalu yakin kau akan bisa menjadi seindah ini.  Tak akan ada yang sanggup berpaling darimu”, kata awan dengan takjub.
Sakura hanya terdiam begitu pula dengan seluruh lembah yang mendadak dilingkupi dengan kesunyian.
“Maafkan aku Sakura, aku benar-benar....”
“Tak usah minta maaf”, potong Sakura. “ Hari ini aku benar-benar bahagia, harapan terbesarku sudah terwujud yaitu kau ada disini bisa melihat semua ini. Aku mohon jangan merasa bersalah padaku. Tak ada yang salah. Rasa ini sangat indah awan, karnamu aku bisa merasakannya. Aku tak ingin memaksakan apapun padamu, ini sudah cukup indah. Kuatnya rasa itu bisa berjalan bahkan bila jarak membuatku tak bisa merengkuhmu. Kau tetap disana ya, selalu bahagia. Aku selalu mengharapkanmu sebagai salah satu langkah yang ku tempuh. Rasaku selalu untukmu jadikan ia kawan bukan beban. Tetap yakinlah bagaimanapun semesta mengubah dunia, rasaku dan doaku tetap akan selalu mengiringimu....”
KREKKKK...!!!!!!!!!!!!! tumbang sudah pohon sakura yang seluruh bunga-bunganya bermekaran sangat indah hari itu, hari pertama ia bersemi dan gugur pada saat bersamaan. Para manusia sudah sempurna menebang batang pohon Sakura, itulah yang membuat seluruh lembah terdiam...
Awan.........




P.S :
(Nothing’s gonna change my love for you, you ought to know by now how much I love you. The world may change my whole life through but Nothing’s gonna change my love for you)-Westlife-

Saturday, 18 June 2016

Perasaan yang memilih tetap ada..



Jika memang pergi ialah mencipta bahagia untuknya, lantas bisakah memohon padanya agar tetap tinggal ? derai air mata deras menderu, perihal betapa hati tak bisa lagi menyembunyikan inginnya untuk menahanmu. Namun, kau tetap ingin pergi. Melepaskan, menepikan, menghampakan segala rupa-rupa rasa yang telah terbangun bersama. Menolak menjaganya menyisakan goresan luka.
Pergilah....
Kau sangat berhak untuk bahagia dengan mendapatkan yang terbaik dari semesta ini. Tak kan sampai hati nurani memaksamu untuk menetap sekali lagi disini. Ikatan itu sudah tak ada maknanya lagi saat kau memutuskan beranjak pergi. Dengan segenap upaya dalam detik-detik akhir nurani bersikeras masih ingin menggenggammu.
Namun apalah dayanya, semilyar alasan terindah sekalipun tak akan mampu membuat hatimu kembali, sebab ikrar pergi sudah kau dengungkan dan lakukan saat itu.
Hancur...
Segala impian dan keinginan yang telah tersusun manis dengan berjanjikan masa depan bersama, semuanya pupus. Kau benar-benar melepaskan nurani, tak berpaling saat beranjak pergi. Sedangkan nurani sedang menguatkan diri kala menatapmu pergi. Memperbaiki apa yang dihancurkan luka.
Ia beku dan juga kelu, semuanya terasa menyesakkan dalam sekejap saja. Bukan ia tak ingin mengejarmu, saat kau tak lagi memalingkan muka padanya rasa sakit dari segala janji masa depan meyergapnya. Menghantam dan menghunus pedang yang mematahkan nan menyakitkan.
Sakit...
Pesakitan yang dirasakan olehnya menyerbunya, mematahkan langkahnya yang ingin mengejarmu, merengkuhmu kembali. Namun, ia memilih diam dan menghindarimu. Nurani tak ingin kau merasakan hal yang sama, cukup ia yang terluka dan kau harus selalu bahagia. Sangat ingin ia kembali padamu, pada sisa-sisa kekuatannya ia mengumpulkan untuk bisa mengejarmu.
Jauh...
Kau sudah berlari cukup jauh darinya, tak lagi terengkuh. Dengan tertatih pedih menyeret langkahnya untuk mengejarmu. Detik berikutnya ia tau,kau pantas untuk bahagia dengan yang lainnya bukan pada hati yang sanggup membuatmu tak pergi.
Cinta...
Tak usah kau tanya lagi arti kata ataupun pembuktian dari kata itu. Melepasmu adalah bukti nyata bahwa cinta sejati itu ada. Ia rela terluka untuk melihat kau bahagia dengan duniamu, walaupun artinya itu harus mematahkan dirinya berkali-kali. Bahkan ketika kau pergi tanpa sebuah alasan kejelasan dan berjuta kali nurani semacam tak berhak mendapatkan sebuah alasan darimu, nurani senantiasa berdoa untuk bahagiamu, ia mencintaimu...
Kembali...
Untukmu, hati itu selalu membukanya..
Menunggumu untuk pulang..