Ia pergi tanpa
lambaian tangan, tanpa ucapan selamat tinggal dan juga tanpa alasan. Ia yang
dulu begitu meyakinkan memberikan mimpi dan menumbuhkan harapan. Ia pergi tanpa
sepatah aksara hingga hati dan asa dipenuhi selaksa tanya dan lara. Setega itukah
? hingga detik akhir ia terus mengabaikan dan mematahkan sejuta sayap
keinginan.
Lamunan dalam
rinai hujan masih tentang ingatan dan kenangan serta perputaran cerita
bersamanya. Genap 40 hari ia memutuskan tali perasaan itu. Seluruh bayangan
masih segar dalam pikiran. Kalaupun hati dan nurani boleh jadi bisa melupakan
selaksa kenangan kita, namun ingatlah selarik jejak langkah kita pada sudut
jalan dan tempat dikota ini tetap menyimpan kisah kita abadi dalam sunyinya.
Ia adalah kamu
‘Zee’. Kau pergi tanpa sepatah kata , mematahkan segala perasaan yang ada .
Masih saja kau menjadi orang yang muncul dalam benak pertama kali saat bangun
dan terakhir sebelum jatuh terlelap tidur. Begitu tak berharga dan tak punya makna kah
kisah ini bagimu ? kau pergi tanpa segan di hati. Ini selarik aksara untukmu.
Zee...
Yang kau hadapi ini adalah seorang
manusia, pahamilah. Tak semua petunjuk bisa dimaknai olehnya, tak usah
berpangku tangan pada takdir. Takdir telah menitipkan sebait penjelasan padamu,
sampaikan padanya alasan kepergianmu.
Zee...
Kisah ini bukan hanya milikmu tapi
juga miliknya, lebih tepatnya milik kita. Kau mengawalinya dengan mendatanginya
dan kau mengakhiri ini hanya dengan sebait pesan pendek dunia maya ? Setega
itukah kau ?
Zee...
Sekali lagi, ia adalah manusia,
punya hati yang selayaknya kau hargai. Jelaskan jika memang kau sudah tak ada
rasa lagi atau apapun itu, paparkan alasan ketidakmaunmu untuk merajut kisah
ini lagi padanya.
Zee...
Ia juga berhak tau alasan
berakhirnya kisah ini. Agar ia bisa menghapus segala tanya dan melapangkan dada
untuk berdoa agar kau selalu bahagia dengan segala cita tanpa ia yang kau
tepikan dari duniamu.
Zee..
Ingat, dia juga manusia yang punya
makna untukmu, walau bagimu ia hanya selingan semata.
Zee..
Terima kasih pernah menjadi bagian
perjalanan hidup. Meski pada beberapa bagian, harus menghadapi pedihnya usaha
bangkit setelah redup. Kalau nanti kau bertanya lagi kenapa bisa melupakan,
tanyalah dirimu kenapa kau bisa pergi sejauh itu.
Zee...
Aku tau cara untuk lari, tapi sangat
sulit ‘tuk pergi. Berat dan sakit dalam proses merelakanmu dengan tulus. Namun,
aku paham rasaku padamu berubah dari yang dulu ingin memilikimu, menjadi ingin
melihatmu bahagia. Kini aku harus merelakan nanti, nanti harus kuserahkan pada
tidak sama sekali.
Zee..
Membiarkanmu pergi bukan cara yang
tepat, pun memintamu kembali juga bukan cara yang terbaik. Biar Tuhan
mempertemukan dengan caraNya yang indah.
From:
Someone beyond
the dreams