Monday, 20 April 2015

kopi pagi

kopi pagi ini terasa hambar
menyecap rasa yang tak mampu terumbar
membuat jejak itu semakin samar
semuanya tak terasa benar
ketika  mulai awal baru yang ada hanya sukar
padahal hati melekat bagai jangkar
cinta terpenjara dalam sangkar 
tak mampu keluar
untuk sekedar menatap nanar
 pada pagi yang bercadar
dan menghitung detik jarum berputar
ah... kopi pagi yang hambar

story for the mountain #part4

sejumput mendung mengungkung hati sang gunung...
membuatnya terdiam, merenung dan murung...
hatinya sayu dan tergugu,melihat sang sahabat pergi meretas ke alam bebas...
ia ikhlas untuk melepas walaupun disertai wajah pias...
melihat keadaan sang gunung, hilanglah rona bahagia si kelinci kecil..
kesedihan dan kepahitan yang dicecap sang gunung, sungguhlah dia ikut merasakan..
rasa sakit dan sembilu pilu ikut menusuk kalbu...
kala si kelinci kecil hanya bisa terdiam dan tak bisa berbuat banyak untuk sang gunung...
namun, doa si kelinci kecil tak pernah putus ataupun pupus untuk sang gunung...
"Tuhan, takdirkan aku untuk slalu ada didekatnya... 
setidaknya beritahu dia kalau aku akan tetap dan selalu disini untuknya...
tak kan beranjak walau takdir tak memihak..." kata si kelinci kecil dalam hati.
pada saat seperti inilah kau akan merasa menjadi orang paling tak berguna,
saat dia yang sangat berarti untukmu hatinya tertusuk sembilu pilu,
kau tak tau apa yang harus kau lakukan...
memberinya ketenangan dalam kesendirian ataukah pergi kesana dan duduk disampingnya...
si kelinci kecil benar-benar tak tau apa yang harus dilakukannya...
tetiba sang gunung datang menghampiri si kelinci kecil...
hatinya menggerakkannya untuk menemui dan berbagi pada si kelinci...
"Kelinci... biarkan aku menangis untuk pagi ini"... bisik sang gunung 
"tak mengapa, aku akan tetap dan selalu menunggu rekahan senyummu disini" jawab si kelinci kecil
terkadang kesedihan membutuhkan ruang untuk menyendiri...
pada saat yang tepat hati akan berbagi tentang apa yang dia hayati dan luka yang terperi...
dan yang melegakan, hati yang kau ajak berbagi selalu kembali saat kau sedang ingini...
dan ia tak akan pernah pergi walau sesenti walaupun seringkali kau ingkari...

Sunday, 19 April 2015

sepenggal sajak, diujung mendung

menyisipkannya dalam tiap butir sel dalam dirimu...
terbangkan ke angkasa hingga tinggi ke antariksa...
meluas sampai tiap jengkal jagat raya...
memendamnya ke pelukan perut bumi sampai keakarnya...
begitu kerasnya untuk melupakan sketsa wajahnya...
membungkam riuh suaranya yang mengiang ditengah gelap malam...
mengabaikan rasa itu, melarikannya, menghilangkannya...
begitu susah dilupa, begitu mudah diingat...
hati dijerat, terperanjat atas kenyataan yang menyayat...
tapi, cinta itu nyata...
membuncah ruah ditiap kerlingan mata...
terlihat jelas atas tindakannya...
tak bisa dipungkiri...
tak bisa diingkari...
hanya bisa dinikmati walau kesedihan akan kahilangan datang menghantui...
tak bisa berhenti sampai Penggenggam hati menyuruh untuk kembali dan pergi...

Monday, 13 April 2015

Awan-awanku :)

Awan...
kelembutan dan keteduhanmu masih tetap sama...
sampai kapan kau akan berkelana ?
tak bisakah sejenak kita bercengkerama ?
Awan...
tak akan pernah bisa habis rangkaian kata untukmu
slalu ada relung hati untuk merindukanmu
slalu ada untaian doa untuk bertemu
Awan...
memandangimu saja banyak menumbuhkan harapan
menghadirkan ketentraman pada kehidupan
meredakan lara yang membara
Awan...
kau sangat tenang
namun  perlahan-lahan kau menghilang
saat dunia begitu menyakitkan, kau tak pernah lupa untuk datang
ini adalah rumahmu, yang selalu menantikanmu untuk pulang

story for the mountain #part 3

Hari ini hujan...
sang awan benar-benar sudah tak bisa bertahan
untuk menghamburkan diri ke pelukan sang tanah
menjadi butiran-butiran yang bening nan meneduhkan
kelinci kecil membiarkan sekujur tubuhnya berpasrah dibasahi butiran-butiran itu
begitu pula dengan sang gunung
begitu tebuai dengan hujan kala itu
kenangan akan kebersamaan seakan meluap-luap, tak tertahankan
berlarian menyeruakkan sebuah kelahiran akan kerinduan
memendarkan kebersamaan yang pernah tercipta
Rongga hati sang gunung diliputi kegelisahan dan kerumitan
dia sangat teramat yakin bahwa hatinya hanya tertuju pada sang rembulan
bukan hanya mencintanya dia pun sangat memuja sang rembulan
namun, setelah beberapa waktu hatinya merasa sebuah kekosongan 
sang rembulan masih ditempat yang sama, tak ada yang salah
cintanya pada sang rembulan pun tak berkurang walau sesenti
apa lagi yang harus dia cari ?
Sang gunung menyadari sudah lama ia tak mendapati sosok si kelinci kecil
muncul didepan retina matanya, sudah cukup lama ternyata
dia terlalu sibuk untuk menggapai sang rembulan
terhingga dia melupakan keberadaan si kelinci kecil
sang gunung sadar si kelinci kecil mulai menjauh darinya
yang pada awalnya ia hanya menganggap si kelinci kecil hanyalah teman bercerita
setelah jarak membentangkan sayapnya ia merasa kehilangan 
separuh hatinya seakan pergi terbawa oleh si kelinci
Hujan semakin deras...
si kelinci kecil mulai menggigil dingin, namun ia tak beranjak 
dia sedang pada kerinduannya yang memuncak
deraian air mata menyatu dengan air hujan
tetesannya seirama dengan nyanyian hujan
"hujan.... kerumitan ini semakin membelitku
sejujurnya aku bahkan sudah tak memahami ataupun mengerti 
tentang apa yang harus kuminta dan kuharapkan
aku pun sangat menyayangi sang rembulan
mungkin rerata hati tak akan percaya apa yang kurasakan
tapi inilah kebenarannya...
setitik benci dan rasa cemburu padanya pun aku tak punya
diriku begitu mengerti dan seakan ikut merasakan apa yang dirasakannya
mungkin ini karena sang gunung telah memberikan banyak pengertian tentangnya
melalui kisah yang diceritakannya padaku
sebab itu rasa bersalah memburuku tanpa ampun
sebab aku lah tercipta antara gunung dan sang rembulan
sebab aku lah bulan menjadi murung 
aku pun sadar diri, apalah aku ini...
aku tak ingin menjadi perenggut kebahagiaan sang rembulan...
aku ingin mereka kembali bersama, becengkerama penuh romansa
 namun hati kecilku ini tak bisa dipungkiri ataupun dibohongi
untuk pertama kalinya aku akan mengakuinya didepanmu hujan...
Aku menyayanginya....mencintainya
walaupun seperti itu sebersit pun aku tak pernah ingin dia melupakan sang  rembulan
sang rembulan adalah bagian  hidup dari sang gunung
penerimaan akan sang rembulan menjadi bagian hidup sang gunung,
berbanding lurus dengan tumbuhnya rasa itu
sebab cinta ini adalah cinta yang membebaskan
iya, membebaskan sang gunung menjadi sebenar-benarnya dirinya sendiri
aku pun tak akan keberatan jika kita harus memandangi sang rembulan bersama-sama
 tanpanya kisah ini tak akan sama bahkan aku tak akan bisa merasakan anugerah rasa indah ini
asalkan bisa berada disampingnya menjadi teman hidupnya..
menjadi saksi dan pejuang untuk selalu mengukir senyum bahagianya, apapun akan ku lakukan "
metamorfosa hujan telah menjadi gerimis yang dinamis
memberikan secercah rasa manis pada kenyataan yang sedikit sinis
memberikan bukti, bahwa semesta sedang menyuguhkan cerita romantis
si kelinci kecil mulai memahami, kerumitan ini akan diurai oleh semesta
pada saatnya nanti....

Tuesday, 7 April 2015

story for the mountain #part2

semesta...
kelinci kecil kali ini berada pada sebuah persimpangan 
antara kembali atau pergi dari gunung itu
ijinkanlah kelinci kecil ini bertanya beberapa patah tanya padamu
"masih bisakah aku menetap di gunung itu  ?
apakah aku benar-benar harus pergi darinya ?
haruskah aku lakukan itu ?
tak bisakah aku tinggal sedikit lebih lama ?
benarkah kesempatanku sudah sampai batasnya ?
tak bolehkah aku punya kesempatan lagi?
bisakah kesempatan terus datang tanpa ada ujungnya ? 
haruskah aku melepasnya begitu saja ?
bolehkah aku berjuang untuknya walaupun aku tau ujungnya tetap sama  ?
hanya terdiam dan melihatnya tanpa bisa melakukan apa-apa itu yang disebut siksaan
rasanya seperti menemukan tempat yang sudah kau cari selama hidupmu
gerbang pintunya terbuka lebar 
tapi serasa tubuhmu kaku takk bisa memasukinya".
itulah sepenggal percakapan kelinci pada semesta..
semakin lama sang gunung bersikap dingin pada kelinci...
dia dekat, dia ada tapi pada kenyataannya sang gunung jauh tak terengkuh
si kelinci kecil belum bisa melepas seluruh mimpinya untuk menetap disana
hanya keheningan dan jarak yang tak terlihat oleh mata diantara mereka
moment romansa mereka benar-benar serasa seperti mimpi
singkat, tertancap dan menguat menjadi sebuah memori yang tak akan dilupa oleh kelinci kecil
 membuat langkahnya semakin berat untuk melangkah menjauh...
"sudahlah kelinci... relakan apa yang terjadi..
kau sudah melakukan peranmu..
sekarang saatnya menyerahkan apa-apa yang hanya bisa kau semogakan..
pada Sang Penggenggam hati..
tak usah takut ataupun risau..
sesukar, sejauh , serumit apapun kalau takdirNya tergaris untukmu
itu akan jadi milikmu...
tenangkan hati, lapangkan pikiran, dengarkan nurani
langkahkan pemikiran dan hati sesuai jalannya
tak usahlah memaksakan skenarioNya" bisik semesta pada kelinci.
Apapun yang dilakukan dari hati akan sampai juga ke hati 
Waktu dan jarak yang akan menyingkap rahasia besarnya
apakah satu sama lain menemukan kebahagiaan kala bersama 
ataukah
ada kebahagiaan masing-masing yang sudah tergurat pada hati yang berbeda
Tunggu saja..