Sunday, 1 May 2016

A STORY FOR THE MOUNTAIN #LastChapter



Zona senja sedang menduduki singgasananya...
Pesona gelap merambat dalam sapuan angin yang beranjak membisikkan janji-janji malam...
Rembulan memulai menaiki tahtanya dengan sinar yang selalu menawan...
"Gunung... Kau mulai berubah.. Apakah kau mulai membuat akhir kisah kita ?"tanya rembulan
Sang gunung masih terdiam, suaranya teredam hening...
Namun, keriuhan sedang menjalari hati dan pikirannya...
"Tak ada yang perlu berakhir rembulan, kau bukanlah perjalanan yang memiliki awal maupun akhir...
Bagiku kau adalah tujuan.. Satu-satunya tujuan dalam hidupku" jawab sang gunung, sembari memberikan senyuman yang melegakan.
Sang gunung tak akan sampai hati untuk melukai dan membuat resah sang rembulan yang teramat dipujanya,
Dia memilih diam untuk menarik segala simpul yang ada padanya..
Dia memutuskan untuk menemui si kelinci kecil...
Tiap jengkal tanah, sepanjang sungai ia susuri... Meniti jejak si kelinci
Ia menemukan si kelinci kecil, sedang menari dibawah rinai hujan...
"Aku merindukannya, sangat....." gumam Sang gunung
Sembari menyaksikan si kelinci kecil, sang gunung menulusuri gumpalan yang membuatnya sesak ...
Sejauh apapun pergi, seberapa keras diingkari, ia tetap tak bisa memungkiri..
Sang gunung merindukan kelinci kecil...
Si kelinci kecil sedang bahagia dalam dunia nya... Berbahagia dengan hujannya
Ada sedikit nyeri dalam diri sang gunung melihat kelinci kecil menikmati dan bersenandung bersama hujan...
"hai.... " sapa sang Gunung sedikit canggung..
"kau... Hai gunung apa kabar ?" jawab si kelinci kecil dengan seulas senyum tulus..
"Aku ba.... Emm... Tebaklah kelinci, aku percaya kau telah mengenal diriku dengan baik, aku yakin kau tau bagaimana aku dan kabarku" kata sang Gunung
"Kau tau gunung, aku hanya tau sebagian kecil dari kisahmu... bahkan sampai sekarang aku masih terus belajar untuk memahamimu... Ahh sudahlah...
Aku tau kau baik2 saja” ujar si kelinci kecil.
“Kelinci, bisakah kita tidak berpura-pura untuk hari ini saja ? Aku ingin menguaraikan simpul itu” kata Sang Gunung.
“Mungkin ini terdengar naif Gunung, tapi sekalipun aku tak pernah mencoba berpura-pura didepanmu... tiap kata yang kau dengar dariku itulah ungkapan  hatiku tak ada yang kucoba tutupi ataupun sembunyi”, jawab Kelinci kecil.
“Maafkan aku kelinci, aku tau kata maaf tak berarti apapun dan tak akan mengubah apapun ataupun memberi kesembuhan pada lara sanubari.... hanya inilah yang aku bisa lakukan untukmu... aku sudah tak tau apa yang tengah hati ini minta dan inginkan... semua terlihat sama seimbang...kau....rembulan... entah...”  sang gunung mengurai kata hatinya.
Kelinci kecil hanya bisa berdiam membeku dengan berbagai hingar bingar imaji dan hiruk pikuk kata hati maupun logika yang memenuhi kepalanya.
“Sekali lagi maafkan aku kelinci, aku tak pernah memberikan apapun bahkan secuil kebahagiaan padamu hatimu, hanya luka dan harapan kosong yang aku beri... kau tau kelinci, aku kira hanya rembulan yang mampu menjadi muara semua untuk bahagia, harapan serta mimpiku...” urai sang gunung,
Si kelinci kecil menyela “Aku tau gunung, Sang gunung memang diciptakan untuk Sang Rembulan... semua yang berada pada naungan semesta tau hal itu...”
“Kelinci... dari setiap milyaran hati pada semesta ini akupun tak tau mengapa aku dipilih dan terpilih untuk berada dalam posisi ini... entah kapan tepatnya aku mulai mengharapkanmu, bahkan aku tak menyadari ketika aku berbagi apa yang aku rasakan padamu...perasaan tak bernama itu perlahan mulai menempati relung-relung hatiku berdampingan dengan rembulan...” jelas sang gunung.
Si kelinci seperti mendengar gemuruh entah itu datang dari hati maupun telinganya. Ia belum bisa mencerna semua yang dikatakan sang gunung. Skenario semesta memang selalu mengejutkan, pertanda itu selalu ada dihembus semesta dan dimaknai oleh nurani serta bagian yang tersulit adalah berdamai dengan logika tentang impian yang terkadang hanya ilusi penuh imaji yang semesta tak memberinya kesempatan menjadikan itu nyata, terbuang oleh ego.
“Maafkan aku Gunung, maaf... aku membuat kacau kisahmu dengan rembulan... maafkan aku..”isak si kelinci kecil.
Sang gunung terpaku menyaksikan kelinci kecil tergugu, membisu...
Hatinya merasa ngilu, semacam sembilu menusuki merutuki hati. Ia tak menyangka bahagianya menjadi duka. “Sepentingkah itukah ia ?, rasanya sakit melihat ia dikepung air mata” kata hati sang gunung.
“kita memiliki peran masing-masing dalam hidup ini, aku hanyalah penikmat kisahmu... maafkan sebab aku merusak dan meracau dalam kisahmu... aku terlalu ikut campur”, cerca si kelinci kecil.
“Aku hanya bisa menggores luka padamu kelinci, padahal dari semuanya hanya kau yang sedia setiap saat aku butuh. Kau selalu setia mendengar semua kisahku, keluh kesahku. Tanpa aku hiraukan apakah kau juga punya masalahmu sendiri, bahkan aku tak pernah bertanya. Semua nya selalu tentang aku, dengan sabar kau mendengar semuanya. Dengan selalu mengulas senyum ceria dengan sabar menasehatiku dengan caramu... sungguh  kelinci kau juga punya arti untukku”, isak Sang gunung.
“Gunung... kau harus tau aku mendengarmu, rela menunggumu, membasuh gundahmu aku lakukan semua tanpa syarat  apapun.. aku tak mengharap apapun sebagai balasan.. semacam aku memang ditakdirkan untuk melakukan semua ini... sungguh kau tak perlu merasa seperti itu.. sebagai makhluk biasa tentu aku punya masalah, namun diatas semua itu melihatmu bahagia adalah bahagia juga untukku... percayalah, kapanpun kau butuh aku akan selalu ada... mungkin memang sepertinya tak tampak tapi setangkup doa untukmu selalu aku kirim ke atas langit semesta.. aku tak hilang... kita yang memang tak bisa bersama, tapi bukankah kita masih bisa berjalan berdampingan ?”, kata si kelinci kecil dengan seulas senyumnya.
Tak semua rasa bisa bermuara pada samudera yang telah kita rasa, terkadang rasa hanya fatamorgana. Yang tak bisa ditakdirkan bersama, masih ada kesempatan untuk selalu berjalan berdampingan. Bukankah berjalan berdampingan lebih membahagiakan daripada mengucapkan salam perpisahan ?
Ada banyak jalan kebahagiaan terhampar dikaki semesta. Jalani, syukuri dan nikmati semua peran ini. Percaya saja semua akan selalu bahagia jika kita mau menerima semuanya. ^^