Tuesday, 12 July 2016

selarik kisah klasik ... {untukmu, Zee)



Ia pergi tanpa lambaian tangan, tanpa ucapan selamat tinggal dan juga tanpa alasan. Ia yang dulu begitu meyakinkan memberikan mimpi dan menumbuhkan harapan. Ia pergi tanpa sepatah aksara hingga hati dan asa dipenuhi selaksa tanya dan lara. Setega itukah ? hingga detik akhir ia terus mengabaikan dan mematahkan sejuta sayap keinginan.
Lamunan dalam rinai hujan masih tentang ingatan dan kenangan serta perputaran cerita bersamanya. Genap 40 hari ia memutuskan tali perasaan itu. Seluruh bayangan masih segar dalam pikiran. Kalaupun hati dan nurani boleh jadi bisa melupakan selaksa kenangan kita, namun ingatlah selarik jejak langkah kita pada sudut jalan dan tempat dikota ini tetap menyimpan kisah kita abadi dalam sunyinya.
Ia adalah kamu ‘Zee’. Kau pergi tanpa sepatah kata , mematahkan segala perasaan yang ada . Masih saja kau menjadi orang yang muncul dalam benak pertama kali saat bangun dan terakhir sebelum jatuh terlelap tidur.  Begitu tak berharga dan tak punya makna kah kisah ini bagimu ? kau pergi tanpa segan di hati. Ini selarik aksara untukmu.

Zee...
Yang kau hadapi ini adalah seorang manusia, pahamilah. Tak semua petunjuk bisa dimaknai olehnya, tak usah berpangku tangan pada takdir. Takdir telah menitipkan sebait penjelasan padamu, sampaikan padanya alasan kepergianmu.
Zee...
Kisah ini bukan hanya milikmu tapi juga miliknya, lebih tepatnya milik kita. Kau mengawalinya dengan mendatanginya dan kau mengakhiri ini hanya dengan sebait pesan pendek dunia maya ? Setega itukah kau ?
Zee...
Sekali lagi, ia adalah manusia, punya hati yang selayaknya kau hargai. Jelaskan jika memang kau sudah tak ada rasa lagi atau apapun itu, paparkan alasan ketidakmaunmu untuk merajut kisah ini lagi padanya.
Zee...
Ia juga berhak tau alasan berakhirnya kisah ini. Agar ia bisa menghapus segala tanya dan melapangkan dada untuk berdoa agar kau selalu bahagia dengan segala cita tanpa ia yang kau tepikan dari duniamu.
Zee..
Ingat, dia juga manusia yang punya makna untukmu, walau bagimu ia hanya selingan semata.
Zee..
Terima kasih pernah menjadi bagian perjalanan hidup. Meski pada beberapa bagian, harus menghadapi pedihnya usaha bangkit setelah redup. Kalau nanti kau bertanya lagi kenapa bisa melupakan, tanyalah dirimu kenapa kau bisa pergi sejauh itu.
Zee...
Aku tau cara untuk lari, tapi sangat sulit ‘tuk pergi. Berat dan sakit dalam proses merelakanmu dengan tulus. Namun, aku paham rasaku padamu berubah dari yang dulu ingin memilikimu, menjadi ingin melihatmu bahagia. Kini aku harus merelakan nanti, nanti harus kuserahkan pada tidak sama sekali.
Zee..
Membiarkanmu pergi bukan cara yang tepat, pun memintamu kembali juga bukan cara yang terbaik. Biar Tuhan mempertemukan dengan caraNya yang indah.




From:
Someone beyond the dreams

Monday, 27 June 2016

GUGUR PADA MUSIM SEMI YANG PERTAMA




Alkisah, di sebuah lembah yang subur. Terhampar pemandangan yang mendamaikan bagi siapapun yang berkesempatan untuk mau sejenak menepi dari rutinitas dan menyesapi kebersamaan dengan keberagaman keindahan alam.
Hari ini adalah hari terakhir musim dingin, sebuah janji kehidupan baru mulai tumbuh dengan kembalinya secercah sinar matahari yang menyibak gigil dingin menjadi sebuah gelimang hangat yang penuh dengan harapan-harapan baru.
Tunas baru tumbuh, ia adalah tunas dari pohon berbunga, alam menyebutnya Sakura. Kuncup batang kecilnya mulai menunjukkan tanda denyut kehidupan. Sakura sudah resmi menjadi penduduk lembah yang indah itu. Hadirnya disambut gegap gempita oleh sekumpulan bunga-bunga cantik, rona pagi yang indah, aliran sungai yang menenangkan dan juga awan.
Saat daun pertamanya mulai muncul, saat itulah Sakura bisa melihat siapa saja yang sudah menjaga dan menunggunya.
“Hai Sakura, aku Awan aku akan melindungimu dari sengatan panas matahari”, begitu riang Awan menyambut Sakura.
“Awan... iya terimakasih awan”, seulas senyum pertamanya di dunia dan itu untuk awan.
Semenjak saat itu mereka semacam mengikat tali takdir diantara mereka berdua. Awan memang tak setiap waktu bisa bercengkerama dengan Sakura. Awan sangat suka berkelana Sakura sangat paham hal itu. Terkadang dalam satu waktu mereka tak bertemu cukup lama.Tak ada masalah dengan hal itu, Sakura selalu menunggunya untuk kembali.
Walau terkadang takdir ataupun angin tak menginginkan awan kembali padanya, ajaibnya awan selalu bisa kembali. Saat-saat paling istimewa dalam runutan waktu hidup Sakura adalah mendengarkan kisah dari awan.
Tanpa Sakura sadari, ia selalu melepaskan kepergian awan dengan sekuntum senyuman dan seulas kerinduan. Tali – temali rindu yang perlahan tapi pasti menjerat nurani menghidupkan sebuah rasa pada sanubari yang tak akan sanggup dihindari oleh Sakura.
“Senja, bisakah kau mengirimkan salamku untuk awan ? ia sudah lama tidak berada disini”, tanya sakura pada senja.
“Hanya Penggenggam Semesta yang mengetahui dimana awanmu berada Sakura”, jawab Senja.
Sakura terdiam, ada bagian dari dirinya yang terasa hampa tidak sempurna. Bila saja ia bisa berlari ataupun terbang, tanpa berpikir dua kali ia akan mencari awan. Temaram malam mulai menerkamnya pada pekatnya kerinduan tanpa balasan.
Senja, para lebah, para kupu-kupu, para peri-peri taman, para bunga bermekaran semua penduduk lembah tau rasa itulah yang dinamakan cinta.
Waktu bergullir bak sihir yang tak bisa dipatahkan. Daun-daun Sakura mulai tumbuh, ia mulai meninggi. Dan awan pun kembali dan mulai bercerita tentang kisah-kisah hebatnya melihat dunia, takzim Sakura menyimak dengan sepenuh hati.
“Awan... andai aku bisa berharap aku ingin bisa meninggi hingga daun dan bungaku bisa menyentuhmu. Pasti menyenangkan berada diatas sana”, ujar Sakura.
“Tetap tumbuh ya Sakura, berjanjilah kau akan terus bahagia...” kata Awan sebelum tubuh ringannya tertiup angin, perlahan menjauhi Sakura dan lembah indah itu.
“Awan, usahakan kembali saat musim semi pertamaku. Kau harus melihat bagaimana bunga-bungaku mekar. Itu untukmu, Aku.. aku.. mencintaimu.. tak bisakah kau tinggal ?” teriak Sakura, pengakuan itu terungkap sudah. Setiap cinta memang mempunyai hak untuk diungkapkan.
“Sakura, maafkan.. maaf.. aku tidak bisa....”, jawab Awan, sebelum Awan benar-benar hilang dari pandangan.
Angin bertiup semakin kencang, membuat Sakura menggigil kedinginan. Bulir pertama hujan musim gugur mulai menuruni singgasana langit untuk kembali memeluk bumi. Untuk pertama kalinya, rinai-rinai hujan serasa duri-duri yang menancapi tubuh Sakura. Tergugu dalam derasnya hujan.
“Semesta, maafkan aku. Tidak seharusnya aku menangis atas rasa yang begitu indah. Ijinkanlah untuk hari ini saja aku menangis”, ungkap Sakura sendu pada semesta.
Sejalan dengan sendu yang tengah mengungkung Sakura, lembah indah menjadi berselimut mendung sayu dan redup. Rona bahagia lenyap dari binar-binar dedaunan Sakura.
“Sakura, rasanya memang berat jikalau ia tak merasakan perasaan yang sama denganmu. Namun hidup tetap harus berlanjut, banyak yang menunggu bunga-bunga indahmu itu. Kau juga punya janji padanya bahwa kau akan selalu bahagia. Gunakan rasamu untuk memenuhi permintaanya melihatmu bahagia”, kata senja.
Sakura tergugu pilu, tersadar atas apa yang telah ia janjikan pada awan. “ Aku hanya ingin ia melihatku di musim semi,senja. Ia yang selalu ada untukku sedari awal. Aku hanya ingin itu... hanya itu”.
Semenjak percakapan itu, Sakura menjalani harinya dengan mencipta banyak bahagia pada sekitarnya. Ia bercengekrama dengan para bunga dan bergurau pada para lebah, kupu-kupu dan merpati. Namun, tetap tempat awan tak akan tergantikan.
Kuncup-kuncup bunga Sakura mulai tumbuh, semakin hari semakin menutupi batang Sakura.
Hari mekar itupun tiba, satu persatu bunga berwarna merah muda mulai menunjukkan mahkotanya. Semua bahagia melihat Sakura yang begitu menawan. Ditengah bahagia Sakura berharap seorang yang paling ditunggunya.
Hari ini terjawab sudah, Awan kembali.
“Sakura, kau begitu  cantik. Aku selalu yakin kau akan bisa menjadi seindah ini.  Tak akan ada yang sanggup berpaling darimu”, kata awan dengan takjub.
Sakura hanya terdiam begitu pula dengan seluruh lembah yang mendadak dilingkupi dengan kesunyian.
“Maafkan aku Sakura, aku benar-benar....”
“Tak usah minta maaf”, potong Sakura. “ Hari ini aku benar-benar bahagia, harapan terbesarku sudah terwujud yaitu kau ada disini bisa melihat semua ini. Aku mohon jangan merasa bersalah padaku. Tak ada yang salah. Rasa ini sangat indah awan, karnamu aku bisa merasakannya. Aku tak ingin memaksakan apapun padamu, ini sudah cukup indah. Kuatnya rasa itu bisa berjalan bahkan bila jarak membuatku tak bisa merengkuhmu. Kau tetap disana ya, selalu bahagia. Aku selalu mengharapkanmu sebagai salah satu langkah yang ku tempuh. Rasaku selalu untukmu jadikan ia kawan bukan beban. Tetap yakinlah bagaimanapun semesta mengubah dunia, rasaku dan doaku tetap akan selalu mengiringimu....”
KREKKKK...!!!!!!!!!!!!! tumbang sudah pohon sakura yang seluruh bunga-bunganya bermekaran sangat indah hari itu, hari pertama ia bersemi dan gugur pada saat bersamaan. Para manusia sudah sempurna menebang batang pohon Sakura, itulah yang membuat seluruh lembah terdiam...
Awan.........




P.S :
(Nothing’s gonna change my love for you, you ought to know by now how much I love you. The world may change my whole life through but Nothing’s gonna change my love for you)-Westlife-

Saturday, 18 June 2016

Perasaan yang memilih tetap ada..



Jika memang pergi ialah mencipta bahagia untuknya, lantas bisakah memohon padanya agar tetap tinggal ? derai air mata deras menderu, perihal betapa hati tak bisa lagi menyembunyikan inginnya untuk menahanmu. Namun, kau tetap ingin pergi. Melepaskan, menepikan, menghampakan segala rupa-rupa rasa yang telah terbangun bersama. Menolak menjaganya menyisakan goresan luka.
Pergilah....
Kau sangat berhak untuk bahagia dengan mendapatkan yang terbaik dari semesta ini. Tak kan sampai hati nurani memaksamu untuk menetap sekali lagi disini. Ikatan itu sudah tak ada maknanya lagi saat kau memutuskan beranjak pergi. Dengan segenap upaya dalam detik-detik akhir nurani bersikeras masih ingin menggenggammu.
Namun apalah dayanya, semilyar alasan terindah sekalipun tak akan mampu membuat hatimu kembali, sebab ikrar pergi sudah kau dengungkan dan lakukan saat itu.
Hancur...
Segala impian dan keinginan yang telah tersusun manis dengan berjanjikan masa depan bersama, semuanya pupus. Kau benar-benar melepaskan nurani, tak berpaling saat beranjak pergi. Sedangkan nurani sedang menguatkan diri kala menatapmu pergi. Memperbaiki apa yang dihancurkan luka.
Ia beku dan juga kelu, semuanya terasa menyesakkan dalam sekejap saja. Bukan ia tak ingin mengejarmu, saat kau tak lagi memalingkan muka padanya rasa sakit dari segala janji masa depan meyergapnya. Menghantam dan menghunus pedang yang mematahkan nan menyakitkan.
Sakit...
Pesakitan yang dirasakan olehnya menyerbunya, mematahkan langkahnya yang ingin mengejarmu, merengkuhmu kembali. Namun, ia memilih diam dan menghindarimu. Nurani tak ingin kau merasakan hal yang sama, cukup ia yang terluka dan kau harus selalu bahagia. Sangat ingin ia kembali padamu, pada sisa-sisa kekuatannya ia mengumpulkan untuk bisa mengejarmu.
Jauh...
Kau sudah berlari cukup jauh darinya, tak lagi terengkuh. Dengan tertatih pedih menyeret langkahnya untuk mengejarmu. Detik berikutnya ia tau,kau pantas untuk bahagia dengan yang lainnya bukan pada hati yang sanggup membuatmu tak pergi.
Cinta...
Tak usah kau tanya lagi arti kata ataupun pembuktian dari kata itu. Melepasmu adalah bukti nyata bahwa cinta sejati itu ada. Ia rela terluka untuk melihat kau bahagia dengan duniamu, walaupun artinya itu harus mematahkan dirinya berkali-kali. Bahkan ketika kau pergi tanpa sebuah alasan kejelasan dan berjuta kali nurani semacam tak berhak mendapatkan sebuah alasan darimu, nurani senantiasa berdoa untuk bahagiamu, ia mencintaimu...
Kembali...
Untukmu, hati itu selalu membukanya..
Menunggumu untuk pulang..

Wednesday, 1 June 2016

Perempuan

Perempuan....
pada kedalaman tawa ia menyimpan kerapatan kesakitan
ketulusan dan keikhlasan yang seringkali hanya dianggap mainan
tak lebih dipandang sebagai pengiba...
Perempuan...
darinya apa yang kau harapkan ?
diawal kau memperjuangkan ia begitu mendalam
menyelam, merebut hati dan jiwanya
Perempuan...
hanya berharap hal sederhana dan klasik
bualan dan impian menurut kaummu...
Setelah kau mendapatkan hatinya, haruskah kau berlalu begitu saja ?
tak berhakkah perempuan mendapatkan alasan atas sebuah kepergian ?
setelah ia,melepaskan menjatuhkan hati nurani hanya untukmu, kau berlalu ?
hanya pada malam berbagi pahit dan getirnya sebuah tangisan sebab kepergian..
dipersalahkan dengan hal-hal yang ia sendiri tak memahami...
Perempuan ...
apakah bagimu ia hanya kelinci percobaan ?
sebuah uji coba atas seberapa tangguh dan kuat tekad serta keyakinanmu ?
setelah tau kau belum begitu kuat, kau meninggalkannya...
setelah sebelumnya kau memberikan harapan dan impian tentang masa depan...
tak tau kah kau  ? kau sedang bermain dalam hidup seseorang
dan bahkan Tuhan pun tak pernah membuat takdir hambaNya hanya untuk kekonyolan semata..
Perempuan...
 selalu menahan terus berjalan padahal ia sedang menggenggam bara luka pada hatinya...
panas, kebas terus saja ia berjalan tanpa batas...
dan kau, tidur nyenyak dan begitu mudahnya merenda kisah lain...
sedikit saja berikan alasan..
setiap kepergian selalu memberikan luka, namun itu juga siksa ketika kau pergi tanpa sebab...
mematahkan membunuh apa yang sudah tumbuh...
Perempuan...
mendambakan ketulusan dan kepastian...
begitu sulitkah kau berikan ?
ia menunggumu, bertahan mencintaimu mengalunkan doa tulus untukmu
tak peduli kau tahu ataupun tidak, ia akan selalu begitu...
memberikan apa yang ia bisa untuk sebuah kebersamaan denganmu...
hanya itu yang ia harapkan...
pahamilah, itu menyakitkan...
jaga perempuanmu, saat ia menangis kesakitan
perempuanmu yang kuat hanya akan membagi air matanya untuknya dan Tuhan...
bukan ia tak percaya padamu sebab ia teramat mencintaimu
bahkan ia ingin melindungimu dari segala bentuk luka
lukanya akan menjadi lukamu, sebab itu ia membisu...
Mengertilah...
Maknailah...


Dan aku adalah perempuan yang menyimpan genangan air mata yang luruh saat hujan datang...

Sunday, 1 May 2016

A STORY FOR THE MOUNTAIN #LastChapter



Zona senja sedang menduduki singgasananya...
Pesona gelap merambat dalam sapuan angin yang beranjak membisikkan janji-janji malam...
Rembulan memulai menaiki tahtanya dengan sinar yang selalu menawan...
"Gunung... Kau mulai berubah.. Apakah kau mulai membuat akhir kisah kita ?"tanya rembulan
Sang gunung masih terdiam, suaranya teredam hening...
Namun, keriuhan sedang menjalari hati dan pikirannya...
"Tak ada yang perlu berakhir rembulan, kau bukanlah perjalanan yang memiliki awal maupun akhir...
Bagiku kau adalah tujuan.. Satu-satunya tujuan dalam hidupku" jawab sang gunung, sembari memberikan senyuman yang melegakan.
Sang gunung tak akan sampai hati untuk melukai dan membuat resah sang rembulan yang teramat dipujanya,
Dia memilih diam untuk menarik segala simpul yang ada padanya..
Dia memutuskan untuk menemui si kelinci kecil...
Tiap jengkal tanah, sepanjang sungai ia susuri... Meniti jejak si kelinci
Ia menemukan si kelinci kecil, sedang menari dibawah rinai hujan...
"Aku merindukannya, sangat....." gumam Sang gunung
Sembari menyaksikan si kelinci kecil, sang gunung menulusuri gumpalan yang membuatnya sesak ...
Sejauh apapun pergi, seberapa keras diingkari, ia tetap tak bisa memungkiri..
Sang gunung merindukan kelinci kecil...
Si kelinci kecil sedang bahagia dalam dunia nya... Berbahagia dengan hujannya
Ada sedikit nyeri dalam diri sang gunung melihat kelinci kecil menikmati dan bersenandung bersama hujan...
"hai.... " sapa sang Gunung sedikit canggung..
"kau... Hai gunung apa kabar ?" jawab si kelinci kecil dengan seulas senyum tulus..
"Aku ba.... Emm... Tebaklah kelinci, aku percaya kau telah mengenal diriku dengan baik, aku yakin kau tau bagaimana aku dan kabarku" kata sang Gunung
"Kau tau gunung, aku hanya tau sebagian kecil dari kisahmu... bahkan sampai sekarang aku masih terus belajar untuk memahamimu... Ahh sudahlah...
Aku tau kau baik2 saja” ujar si kelinci kecil.
“Kelinci, bisakah kita tidak berpura-pura untuk hari ini saja ? Aku ingin menguaraikan simpul itu” kata Sang Gunung.
“Mungkin ini terdengar naif Gunung, tapi sekalipun aku tak pernah mencoba berpura-pura didepanmu... tiap kata yang kau dengar dariku itulah ungkapan  hatiku tak ada yang kucoba tutupi ataupun sembunyi”, jawab Kelinci kecil.
“Maafkan aku kelinci, aku tau kata maaf tak berarti apapun dan tak akan mengubah apapun ataupun memberi kesembuhan pada lara sanubari.... hanya inilah yang aku bisa lakukan untukmu... aku sudah tak tau apa yang tengah hati ini minta dan inginkan... semua terlihat sama seimbang...kau....rembulan... entah...”  sang gunung mengurai kata hatinya.
Kelinci kecil hanya bisa berdiam membeku dengan berbagai hingar bingar imaji dan hiruk pikuk kata hati maupun logika yang memenuhi kepalanya.
“Sekali lagi maafkan aku kelinci, aku tak pernah memberikan apapun bahkan secuil kebahagiaan padamu hatimu, hanya luka dan harapan kosong yang aku beri... kau tau kelinci, aku kira hanya rembulan yang mampu menjadi muara semua untuk bahagia, harapan serta mimpiku...” urai sang gunung,
Si kelinci kecil menyela “Aku tau gunung, Sang gunung memang diciptakan untuk Sang Rembulan... semua yang berada pada naungan semesta tau hal itu...”
“Kelinci... dari setiap milyaran hati pada semesta ini akupun tak tau mengapa aku dipilih dan terpilih untuk berada dalam posisi ini... entah kapan tepatnya aku mulai mengharapkanmu, bahkan aku tak menyadari ketika aku berbagi apa yang aku rasakan padamu...perasaan tak bernama itu perlahan mulai menempati relung-relung hatiku berdampingan dengan rembulan...” jelas sang gunung.
Si kelinci seperti mendengar gemuruh entah itu datang dari hati maupun telinganya. Ia belum bisa mencerna semua yang dikatakan sang gunung. Skenario semesta memang selalu mengejutkan, pertanda itu selalu ada dihembus semesta dan dimaknai oleh nurani serta bagian yang tersulit adalah berdamai dengan logika tentang impian yang terkadang hanya ilusi penuh imaji yang semesta tak memberinya kesempatan menjadikan itu nyata, terbuang oleh ego.
“Maafkan aku Gunung, maaf... aku membuat kacau kisahmu dengan rembulan... maafkan aku..”isak si kelinci kecil.
Sang gunung terpaku menyaksikan kelinci kecil tergugu, membisu...
Hatinya merasa ngilu, semacam sembilu menusuki merutuki hati. Ia tak menyangka bahagianya menjadi duka. “Sepentingkah itukah ia ?, rasanya sakit melihat ia dikepung air mata” kata hati sang gunung.
“kita memiliki peran masing-masing dalam hidup ini, aku hanyalah penikmat kisahmu... maafkan sebab aku merusak dan meracau dalam kisahmu... aku terlalu ikut campur”, cerca si kelinci kecil.
“Aku hanya bisa menggores luka padamu kelinci, padahal dari semuanya hanya kau yang sedia setiap saat aku butuh. Kau selalu setia mendengar semua kisahku, keluh kesahku. Tanpa aku hiraukan apakah kau juga punya masalahmu sendiri, bahkan aku tak pernah bertanya. Semua nya selalu tentang aku, dengan sabar kau mendengar semuanya. Dengan selalu mengulas senyum ceria dengan sabar menasehatiku dengan caramu... sungguh  kelinci kau juga punya arti untukku”, isak Sang gunung.
“Gunung... kau harus tau aku mendengarmu, rela menunggumu, membasuh gundahmu aku lakukan semua tanpa syarat  apapun.. aku tak mengharap apapun sebagai balasan.. semacam aku memang ditakdirkan untuk melakukan semua ini... sungguh kau tak perlu merasa seperti itu.. sebagai makhluk biasa tentu aku punya masalah, namun diatas semua itu melihatmu bahagia adalah bahagia juga untukku... percayalah, kapanpun kau butuh aku akan selalu ada... mungkin memang sepertinya tak tampak tapi setangkup doa untukmu selalu aku kirim ke atas langit semesta.. aku tak hilang... kita yang memang tak bisa bersama, tapi bukankah kita masih bisa berjalan berdampingan ?”, kata si kelinci kecil dengan seulas senyumnya.
Tak semua rasa bisa bermuara pada samudera yang telah kita rasa, terkadang rasa hanya fatamorgana. Yang tak bisa ditakdirkan bersama, masih ada kesempatan untuk selalu berjalan berdampingan. Bukankah berjalan berdampingan lebih membahagiakan daripada mengucapkan salam perpisahan ?
Ada banyak jalan kebahagiaan terhampar dikaki semesta. Jalani, syukuri dan nikmati semua peran ini. Percaya saja semua akan selalu bahagia jika kita mau menerima semuanya. ^^