Zona senja sedang menduduki singgasananya...
Pesona gelap merambat dalam sapuan angin yang
beranjak membisikkan janji-janji malam...
Rembulan memulai menaiki tahtanya dengan
sinar yang selalu menawan...
"Gunung... Kau mulai berubah.. Apakah
kau mulai membuat akhir kisah kita ?"tanya rembulan
Sang gunung masih terdiam, suaranya teredam
hening...
Namun, keriuhan sedang menjalari hati dan
pikirannya...
"Tak ada yang perlu berakhir rembulan,
kau bukanlah perjalanan yang memiliki awal maupun akhir...
Bagiku kau adalah tujuan.. Satu-satunya
tujuan dalam hidupku" jawab sang gunung, sembari memberikan senyuman yang
melegakan.
Sang gunung tak akan sampai hati untuk
melukai dan membuat resah sang rembulan yang teramat dipujanya,
Dia memilih diam untuk menarik segala simpul
yang ada padanya..
Dia memutuskan untuk menemui si kelinci
kecil...
Tiap jengkal tanah, sepanjang sungai ia
susuri... Meniti jejak si kelinci
Ia menemukan si kelinci kecil, sedang menari dibawah
rinai hujan...
"Aku merindukannya, sangat....." gumam
Sang gunung
Sembari menyaksikan si kelinci kecil, sang
gunung menulusuri gumpalan yang membuatnya sesak ...
Sejauh apapun pergi, seberapa keras
diingkari, ia tetap tak bisa memungkiri..
Sang gunung merindukan kelinci kecil...
Si kelinci kecil sedang bahagia dalam dunia
nya... Berbahagia dengan hujannya
Ada sedikit nyeri dalam diri sang gunung
melihat kelinci kecil menikmati dan bersenandung bersama hujan...
"hai.... " sapa sang Gunung sedikit
canggung..
"kau... Hai gunung apa kabar ?"
jawab si kelinci kecil dengan seulas senyum tulus..
"Aku ba.... Emm... Tebaklah kelinci, aku
percaya kau telah mengenal diriku dengan baik, aku yakin kau tau bagaimana aku
dan kabarku" kata sang Gunung
"Kau tau gunung, aku hanya tau sebagian
kecil dari kisahmu... bahkan sampai sekarang aku masih terus belajar untuk
memahamimu... Ahh sudahlah...
Aku tau kau baik2 saja” ujar si kelinci
kecil.
“Kelinci, bisakah kita tidak berpura-pura
untuk hari ini saja ? Aku ingin menguaraikan simpul itu” kata Sang Gunung.
“Mungkin ini terdengar naif Gunung, tapi
sekalipun aku tak pernah mencoba berpura-pura didepanmu... tiap kata yang kau
dengar dariku itulah ungkapan hatiku tak
ada yang kucoba tutupi ataupun sembunyi”, jawab Kelinci kecil.
“Maafkan aku kelinci, aku tau kata maaf tak
berarti apapun dan tak akan mengubah apapun ataupun memberi kesembuhan pada
lara sanubari.... hanya inilah yang aku bisa lakukan untukmu... aku sudah tak
tau apa yang tengah hati ini minta dan inginkan... semua terlihat sama
seimbang...kau....rembulan... entah...” sang
gunung mengurai kata hatinya.
Kelinci kecil hanya bisa berdiam membeku
dengan berbagai hingar bingar imaji dan hiruk pikuk kata hati maupun logika
yang memenuhi kepalanya.
“Sekali lagi maafkan aku kelinci, aku tak
pernah memberikan apapun bahkan secuil kebahagiaan padamu hatimu, hanya luka
dan harapan kosong yang aku beri... kau tau kelinci, aku kira hanya rembulan
yang mampu menjadi muara semua untuk bahagia, harapan serta mimpiku...” urai
sang gunung,
Si kelinci kecil menyela “Aku tau gunung,
Sang gunung memang diciptakan untuk Sang Rembulan... semua yang berada pada
naungan semesta tau hal itu...”
“Kelinci... dari setiap milyaran hati pada
semesta ini akupun tak tau mengapa aku dipilih dan terpilih untuk berada dalam
posisi ini... entah kapan tepatnya aku mulai mengharapkanmu, bahkan aku tak
menyadari ketika aku berbagi apa yang aku rasakan padamu...perasaan tak bernama
itu perlahan mulai menempati relung-relung hatiku berdampingan dengan
rembulan...” jelas sang gunung.
Si kelinci seperti mendengar gemuruh entah
itu datang dari hati maupun telinganya. Ia belum bisa mencerna semua yang
dikatakan sang gunung. Skenario semesta memang selalu mengejutkan, pertanda itu
selalu ada dihembus semesta dan dimaknai oleh nurani serta bagian yang tersulit
adalah berdamai dengan logika tentang impian yang terkadang hanya ilusi penuh
imaji yang semesta tak memberinya kesempatan menjadikan itu nyata, terbuang
oleh ego.
“Maafkan aku Gunung, maaf... aku membuat
kacau kisahmu dengan rembulan... maafkan aku..”isak si kelinci kecil.
Sang gunung terpaku menyaksikan kelinci kecil
tergugu, membisu...
Hatinya merasa ngilu, semacam sembilu
menusuki merutuki hati. Ia tak menyangka bahagianya menjadi duka. “Sepentingkah
itukah ia ?, rasanya sakit melihat ia dikepung air mata” kata hati sang gunung.
“kita memiliki peran masing-masing dalam
hidup ini, aku hanyalah penikmat kisahmu... maafkan sebab aku merusak dan
meracau dalam kisahmu... aku terlalu ikut campur”, cerca si kelinci kecil.
“Aku hanya bisa menggores luka padamu
kelinci, padahal dari semuanya hanya kau yang sedia setiap saat aku butuh. Kau selalu
setia mendengar semua kisahku, keluh kesahku. Tanpa aku hiraukan apakah kau
juga punya masalahmu sendiri, bahkan aku tak pernah bertanya. Semua nya selalu
tentang aku, dengan sabar kau mendengar semuanya. Dengan selalu mengulas senyum
ceria dengan sabar menasehatiku dengan caramu... sungguh kelinci kau juga punya arti untukku”, isak
Sang gunung.
“Gunung... kau harus tau aku mendengarmu,
rela menunggumu, membasuh gundahmu aku lakukan semua tanpa syarat apapun.. aku tak mengharap apapun sebagai
balasan.. semacam aku memang ditakdirkan untuk melakukan semua ini... sungguh
kau tak perlu merasa seperti itu.. sebagai makhluk biasa tentu aku punya
masalah, namun diatas semua itu melihatmu bahagia adalah bahagia juga
untukku... percayalah, kapanpun kau butuh aku akan selalu ada... mungkin memang
sepertinya tak tampak tapi setangkup doa untukmu selalu aku kirim ke atas
langit semesta.. aku tak hilang... kita yang memang tak bisa bersama, tapi
bukankah kita masih bisa berjalan berdampingan ?”, kata si kelinci kecil dengan
seulas senyumnya.
Tak semua rasa bisa bermuara pada samudera
yang telah kita rasa, terkadang rasa hanya fatamorgana. Yang tak bisa
ditakdirkan bersama, masih ada kesempatan untuk selalu berjalan berdampingan. Bukankah
berjalan berdampingan lebih membahagiakan daripada mengucapkan salam perpisahan ?
Ada banyak jalan kebahagiaan terhampar dikaki
semesta. Jalani, syukuri dan nikmati semua peran ini. Percaya saja semua akan
selalu bahagia jika kita mau menerima semuanya. ^^
No comments:
Post a Comment