Alkisah, tumbuhlah sebuah daun kecil.
Ia tumbuh ditengah pohon yang rindang dan hijau. Daun kecil tumbuh pada satu
ranting yang pendiam. Disaat seluruh ranting dan daun bersorai riuh saat
diterpa angin, ranting itu hanya diam. Ranting itu jarang sekali bercakap
dengan sekelilingnya.
Hingga pada saat musim gugur, satu per
satu daun mulai berguguran, mereka gugur bukan hanya karena terpaan atau
kehendak mengikuti angin namun itu adalah sebuah keharusan, hukum alam yang tak
dapat satu makhluk pun bisa menghindarkan. Satu hal yang pasti jika para
dedaunan kecil itu menyangkal untuk gugur, mereka bisa membuat siklus hidup
menjadi tak beraturan.
Hari terus berganti, hingga tinggallah daun kecil yang
tersisa sendiri. Seluruh daun satu per satu sudah gugur dengan mengucapkan
perpisahan yang manis. Daun kecil merasa dikepung oleh kesendirian dan kesepian
yang merajam. Hingga ia memberanikan diri menyapa sang ranting.
“Ranting, kini hanya tersisa aku.. bisakah kau menemaniku
berbincang ? aku kesepian”, ujar daun kecil.
“Tentu saja... Bagaimana persaanmu ?”, jawab ranting.
“Aku takut, sejujurnya bahkan aku tak bisa membayangkan
bila harus terlepas dari sini”.
Selepas percakapan itu, semakin hari mereka semakin dekat
dan juga menumbuhkan perasaan dalam hati
si daun kecil. Ia semakin ingin untuk selalu berada didekat ranting bahkan
untuk selamanya. Padahal, jauh sebelum daun kecil merasakan perasaan itu, sang ranting sudah
terlebih dulu merasakan dan menyimpan segala rona rasa untuk si daun kecil
dalam kebungkaman dan kebisuan.
Ia pun menyimpan dan sampai pada batasnya dan pada
akhirnya pengakuan itu pun terkatakan.
“Daun... aku sangat bahagia bisa dekat denganmu. Kau tahu
saat-saat inilah yang selalu aku
semogakan dalam keheningan yang selalu aku tunjukkan aku padamu...”
“ Aku pun begitu, ranting... Aku akan selalu berusaha
mendampingimu, memahamimu dan bertahan berada disampingmu. Kita akan selalu
bersama...”, kata daun kecil penuh pengharapan.
Namun, laju dan peran takdir tak bisa untuk mangkir. Pada
saat ini adalah sebuah pilihan harus dijatuhkan. Semesta hanya bisa memberikan
sebuah persetujuan atas segala pilihan yang akan ditentukan oleh tiap makhluk.
Tersudut diantara dua pilihan yang sangat menyulitkan pada
ranting. Jika ia tak melepaskan daun kecil maka seluruh hidup pohon akan sampai
pada akhir, namun hati mana yang menyimpan begitu banyak cinta menghianati rasa
yang paling dikasihi dan sayangi pergi begitu saja.
Beberapa waktu ranting hanya bisa terdiam , bahkan untuk
sekedar memandang daun kecil pun ia tak sanggup. Bagaimana bisa ia melanjuti
hidup jika ia tak ada di sisi. Prasangka akan pahit yang akan menghimpit
menjadikan ini semakin sulit.
Daun kecil merasa berbeda pada ranting yang ia berikan
cinta padanya. Daun kecil berusaha untuk membaut ranting mengerti bahwa ia tak
akan menghadapi apapun sendiri. Ranting tetap hening tak bergeming. Kekalutan begitu
terasa, hingga daun kecil berdoa agar segala beban ranting biar ia yang
membawanya.
Hingga pada tengah malam, si daun kecil masih tetap
terjaga . Ia masih dihinggapi sejuta tanda tanya tentang perubahan sikap
ranting. Kabut malam pun merasakan kegundahan yang dirasakan daun kecil. Kabut malam
menceritakan segala hal yang ia tahu tentang ranting dan pohon.
Begitulah roda kehidupan berputar, kau tak akan sadar
dimana posisimu sebelum semesta mengeluakanmu dari kotak nyamanmu. Entah sedang
di atas ataupun dibawah , suka tidak suka kau hanya bisa menerima. Rasanya semacam
hanya kilatan cahaya bahagia yang dirasa daun kecil, hingga sudah harus
mencecapi pait yang sangat melilit relung hati.
“Baiklah ! jika ranting tak bisa melepaskanku, aku yang
akan melepaskan diriku sarinya”, kata daun kecil pelan.
“Apa kau sungguh-sungguh akan melakukannya ?, tanya kabut
malam terkejut.
“iya kabut malam.. Aku tau hal yang paling menyakitkan
adalah harus melepaskan apa yang telah kau genggam. Dan hal yang lebihh
menyakitkan diatas segalanya adalah pergi tanpa pamit. Aku paham hal itu. Namun,
sungguh kabut, sekarang saja sudah teramat menyakitkan. Sekujur tubuhku menahan
rasa sakit yang sama besar dengan hatiku. Aku sudah tak bisa bersamanya,
haruskah aku menyakiti hatiku lebih dalam
lagi dengan mengucapkan selamat tinggal padanya ? sungguh aku tak bisa”,
isak daun kecil.
“Berjanjilah padaku kabut sampaikan ini pada ranting aku
tak akan bisa jika harus mengucapkan ini sendiri padanya, katakan bahwa aku
sangat mencintainya dan janganlah ranting menyalahkan dirinya atas kepergianku.
Disini tak ada yang salah dan yang harus dipersalahkan. Ini hanya tentang
janjiku yang ingin selalu melihatnya bahagia apapun caranya. Walau bahagianya
tak bersamaku tak mengapa ia tetap harus bahagia yang utuh dan senyum yang
penuh. Hanya itu yang kuinginkan dalam
hidupku setelah aku mendapat anugarah besar bisa mencintai dia,” kata daun
kecil.
Dengan sebulir air mata dan senyuman daun kecil perlahan
melepaskan diri dari ranting. Ia jatuh mengikuti desiran angin. Tuntas sudah
tugasnya untuk menemani dan memberikan kebahagiaan pada rantingnya.
No comments:
Post a Comment