Monday, 13 April 2015

story for the mountain #part 3

Hari ini hujan...
sang awan benar-benar sudah tak bisa bertahan
untuk menghamburkan diri ke pelukan sang tanah
menjadi butiran-butiran yang bening nan meneduhkan
kelinci kecil membiarkan sekujur tubuhnya berpasrah dibasahi butiran-butiran itu
begitu pula dengan sang gunung
begitu tebuai dengan hujan kala itu
kenangan akan kebersamaan seakan meluap-luap, tak tertahankan
berlarian menyeruakkan sebuah kelahiran akan kerinduan
memendarkan kebersamaan yang pernah tercipta
Rongga hati sang gunung diliputi kegelisahan dan kerumitan
dia sangat teramat yakin bahwa hatinya hanya tertuju pada sang rembulan
bukan hanya mencintanya dia pun sangat memuja sang rembulan
namun, setelah beberapa waktu hatinya merasa sebuah kekosongan 
sang rembulan masih ditempat yang sama, tak ada yang salah
cintanya pada sang rembulan pun tak berkurang walau sesenti
apa lagi yang harus dia cari ?
Sang gunung menyadari sudah lama ia tak mendapati sosok si kelinci kecil
muncul didepan retina matanya, sudah cukup lama ternyata
dia terlalu sibuk untuk menggapai sang rembulan
terhingga dia melupakan keberadaan si kelinci kecil
sang gunung sadar si kelinci kecil mulai menjauh darinya
yang pada awalnya ia hanya menganggap si kelinci kecil hanyalah teman bercerita
setelah jarak membentangkan sayapnya ia merasa kehilangan 
separuh hatinya seakan pergi terbawa oleh si kelinci
Hujan semakin deras...
si kelinci kecil mulai menggigil dingin, namun ia tak beranjak 
dia sedang pada kerinduannya yang memuncak
deraian air mata menyatu dengan air hujan
tetesannya seirama dengan nyanyian hujan
"hujan.... kerumitan ini semakin membelitku
sejujurnya aku bahkan sudah tak memahami ataupun mengerti 
tentang apa yang harus kuminta dan kuharapkan
aku pun sangat menyayangi sang rembulan
mungkin rerata hati tak akan percaya apa yang kurasakan
tapi inilah kebenarannya...
setitik benci dan rasa cemburu padanya pun aku tak punya
diriku begitu mengerti dan seakan ikut merasakan apa yang dirasakannya
mungkin ini karena sang gunung telah memberikan banyak pengertian tentangnya
melalui kisah yang diceritakannya padaku
sebab itu rasa bersalah memburuku tanpa ampun
sebab aku lah tercipta antara gunung dan sang rembulan
sebab aku lah bulan menjadi murung 
aku pun sadar diri, apalah aku ini...
aku tak ingin menjadi perenggut kebahagiaan sang rembulan...
aku ingin mereka kembali bersama, becengkerama penuh romansa
 namun hati kecilku ini tak bisa dipungkiri ataupun dibohongi
untuk pertama kalinya aku akan mengakuinya didepanmu hujan...
Aku menyayanginya....mencintainya
walaupun seperti itu sebersit pun aku tak pernah ingin dia melupakan sang  rembulan
sang rembulan adalah bagian  hidup dari sang gunung
penerimaan akan sang rembulan menjadi bagian hidup sang gunung,
berbanding lurus dengan tumbuhnya rasa itu
sebab cinta ini adalah cinta yang membebaskan
iya, membebaskan sang gunung menjadi sebenar-benarnya dirinya sendiri
aku pun tak akan keberatan jika kita harus memandangi sang rembulan bersama-sama
 tanpanya kisah ini tak akan sama bahkan aku tak akan bisa merasakan anugerah rasa indah ini
asalkan bisa berada disampingnya menjadi teman hidupnya..
menjadi saksi dan pejuang untuk selalu mengukir senyum bahagianya, apapun akan ku lakukan "
metamorfosa hujan telah menjadi gerimis yang dinamis
memberikan secercah rasa manis pada kenyataan yang sedikit sinis
memberikan bukti, bahwa semesta sedang menyuguhkan cerita romantis
si kelinci kecil mulai memahami, kerumitan ini akan diurai oleh semesta
pada saatnya nanti....

No comments:

Post a Comment